Laman Utama

22 Disember, 2011

KOSEC MEMBERSHIP SUBSCRIPTION & FRIENDS DETAILS

Sent: Wednesday, 23 November 2011, 17:51

Dear Friends & Salam to ALL,
 
I'm writing and compiling the attached KOSEC membership & friends details on my capacity as a FELLOW FRIEND to all of you trying to assist in reorganizing and consolidating members and yet to be members of KOSEC. I hope you can spare few minutes of your time to go through the spreadsheet and where possible please revert to me via an email the missing details and information for future correspondence, consolidation & records. This applies to all of you irrespective whether you are a member or yet to register.
 
In a nutshell, the following are some updates on KOSEC that was relayed to me by the KOSEC Management (Chairman & ALK) for all of us to observe and moving forward, anticipating for more registration and progress payment from you on the Share Subscription and shall relay to you the process in our next correspondence & notification.
 
1.       KOSEC is still deprived of a GRANT by SKKM as we are short of 7 paid members as the minimum fulfillment by SKKM is 50 paid members.
2.       KOSEC is in the final approval stage of getting a 50 acre of land from Perbadanan Kemajuan Pertanian Perak for agriculture purposes.
3.       KOSEC with Tuan Hj Azlin at the helm & Tuan Haji Faisal, President of the Group are working on a few  business initiatives and about to close these deals soon.
4.       Those friends especially the ex 6th Formers particularly the ladies, please revert back to me you name & details if your names are  missing in the attached file as at press time I've yet to get the complete list of all of you.
5.       As mentioned earlier, you need not update those details in the attached file as replying to my email will be sufficient as we will undertake to consolidate, update/add those details to our KOSEC database.
 
Again, please treat and look KOSEC as one of our planned Retirement Investment Scheme and look forward to meet all of you again. Thank you for your time and have a good day.
 
Wassallam
CPO


Setahun berlalu

Sent: Friday, 18 November 2011, 16:18

Masa memang tidak menunggu sesiapa dan tidak pernah berhenti untuk sesiapa. Insan bernama manusia sering lalai berkaitan masa dan sering tidak lokek dalam soal membelanjakan masa.

Namun kalau dihitung, bagaimana kita menafaatkan masa tersebut. Dan kalau diaudit berapa kah masa kita gunakan untuk mengejar cita cita dan impian kita.

Di tengah kehidupan kini, sering kita kata masa itu emas namun lagak kita seumpama emas itu tidak akan lupus dan kita sering menjana pendapatan lumayan dengan pelaburan emas kita itu.

Masa bersahabat masa berkeluarga masa bergurau dan masa sendirian, ini semua manisfasti ucapan kita 5 kali sehari tatkala berhadapan Ya Rabb.

Semoga kita menggunakan masa yang diberikan.


SA Sulaiman
Yesterday was the easiest day

Kesugulan Diusia Emas.

From: "hishamudin.alli
Sent: Wednesday, 16 November 2011, 19:29

Saban tahun, kita menghitung diri, dari kelanjutan usia, dan menoleh kebelakang, bernostalgia, melalui detik detik kenangan manis, ada pahit maungnya, malahan yang menemui onak dan ranjau dalam pentas kehidupan, yang ditinggalkan kekasih, yang pergi mendahului, yang berpisah dan terpisah, atas kepelbagaian restu dan dan rencam,  saban pilu dan terasa keseorangan dan kesunyian dalam sepi, sayu dan masygul mengenang untung sabut timbul dan untung batu tenggelam didasarnya.

Kecerdasan telah luntur, kegagahan dahulu ditelan zaman, melalui zaman zaman luntur, menghitung waktu untuk berundur dan pergi membawa hati dan perasaan. Fasa fasa ini adalah realiti untuk kita melalui dengan rasa kerendahan dan penuh rasa tawadhuk pada Sang Pencipta.


Sent from my BlackBerry® wireless device via Vodafone-Celcom Mobile.

Kuala Lumpur Oh Kuala Lumpur

From: "hishamudin.alli
Sent: Monday, 14 November 2011, 22:08

Kuala Lumpur, segala ibu bersemarakan disini, kegiatan ekonomi, hiburan, pentadbiran, pengurusan, dagangan dan seadanya, lebih lebih lagi di kawasan Bukit Bintang, seolah olah bertukar corak dikala malam menjelma, metropolitan, pelbagai bangsa dan warna.

Sukar digambarkan jika sesekali datang berkunjung, tatkala sebulan sekali, menginap di tempat yang disumpahi warga kota, disuasana kemacetan yang
bersangatan diwaktu siang dan waktu keluar masuk waktu kerja. Malamnya serba serbi warna warni, siangnya kerja merengkok dikantor dan ada yang selaku karyawan ditoko toko butik, eksklusif, yang mampu meraih petro dollar dari Timur Tengah.

Suasana kreatif seumpama ini mampu melonjakkan dagangan, tapi kesunyian pasaran dan persaingan hebat disekelingnya, gaya mutu dan keunggulan telah banyak dikesampingkan. "Go back to basic", lingkaran ekonomi yang meleset disekitar 1974, disusuli 1984, 1997, menyaksikan gergasi gergasi telah menguncup, mengecilkan operasi, dan timbul pula gergasi baru dengan jenama jenama baru, yang berkonsepkan serba besar, ada ketika jenama jenama hebat ini juga tersungkur dengan labu labunya.

Begitulah cebisan beberapa penelitian yang lama, lebih dari satu generasi terdahulu.

Kuala Lumpur oh Kuala Lumpur.

Sent from my BlackBerry® wireless device via Vodafone-Celcom Mobile.

Gurindam Malam

Sent: Thursday, 10 November 2011, 0:57

Malam kelam tidak terperi,gundah gulana bermain di hati,tidaklah
tinggi hajat di hati,cuma tidur tak ingin sendiri,bukan tiada yang
sayang di sisi,dari siang ia merajuk hati,telah dipujuk rayu tiada
henti,bak batu kerasnya hati,rajuknya itu tiada bertepi,apa punca
tiada diketahui ini bukan simpul mati,akan dicari ke akar umbi,sekian
bicara masih ternanti-nanti, hati kini kian sepi,janganlah sayang
membawa diri,tiada guna berkecil hati,yang luka hanya sendiri,pengubat
hati jangan dijauhi,tidurlah sayang kasihnya akan bersemi,minggu depan
kita ke Langkawi,

Amir Md Akhir
Nov.2011

--



14 Disember, 2011

Kisah Jambatan dan Curut II (Meracik di Laut Memancing di Hutan)

Sent: Sunday, 6 November 2011, 15:12

 Pada yang " Ke laut meracik ikan, tersenyum siput. Ke hutan memancing punai, tersenyum badak."

Tiap-tiap perbuatan itu tertentu sesuatu baginya, jika dilakukan warga desa dikenali sebagai warga yang gagah jiwanya, hendak menjadikan pada yang bukan-bukan kerana tiada perhatian, nescaya menjadi sia-sia dan ditertawakan oleh sekalian orang, bukannya orang-orang tua sahaja, hingga budak-budak pun tertawa juga.

Arakian, tersebutlah kisah seorang kepala desa. Harapan dan impiannya setinggi angkasa, hendak menjadikan desanya terkenal di seluruh pelosok negara, hendak menjadikan diri sendiri sebagai pemimpin berwawasan. Maka bermesyuaratlah si kepala desa dengan ahli jemaah desa, bercadang membina jambatan yang menghubungkan desanya dengan desa seberang. Tujuannya utuk memudahkan perhubungan yang selama ini dijalankan oleh sungai nan sebatang. Pada awalnya ahli jemaah desa tidak bersetuju dengan cadangannya, namun setelah beria-ia berkehendakkan impiannya itu menjadi nyata, maka bersetujulah seluruh ahli jemaah desa dengan kehendak si kepala desa yang tidak kenal apa maksud "berkira-kira." 

"Kita mesti menunjukkan kehebatan kita. Kita mesti menjadi pemula. Kita mesti bijak berniaga.' Sememangnya desa itu desa yang kaya. Hasil mahsulnya tidak terkira. Berdagang berniaga menjadi pekerjaan utama setiap warga. Menjual apa sahaja yang memungkinkan mereka menjadi kaya.

Setelah berbulan-bulan lamanya, maka siaplah jambatan yang diidamkan oleh si kepala desa. Dan maka dirasmikanlah jambatan itu oleh seorang pembesar negara. "Mulai hari ini saudara sekalian tidak perlu lagi menggunakan perahu untuk berniaga. Jambatan ini akan menjadi penghubung untuk warga desa berniaga. Sungai sudah menjadi laluan yang ketinggalan masa,"ucap pembesar negara.

Si kepala desa tersenyum megah sambil menghisap curut yang dibawa orang dari tanah seberang, curut yang bukan murah harganya telah juga diberikan sebungkus kepada pembesar negara semasa ketibaannya tadi, Pembesar negara gembira bukan kepalang atas pemberian itu, sememangnya dia juga penghisap curut yang tegar, apa lagi curut asing. Keenakan yang tiada tandingnya cuma air minumnya, air kopi tidak selazat yang diidamkan. Maunya air ketum tapi masa sudah suntuk untuk menyediakan, mungkin di lain kesempatan rezekinya ada. Bagi kepala desa niatnya tercapai sudah dan di sudut hatinya yang paling dalam dia mengharapkan namanya kian gah.

Hari demi hari berlangsung tanpa apa-apa perubahan. Warga desa masih lagi menggunakan perahu untuk berniaga. Si kepala desa menjadi sugul, mengenangkan jambatan yang hanya bagai tunggul.

Maka tibalah pada suatu majlis keramaian desa. Selruh warga desa datang  menghadirinya. Kecil besar, tua muda. Warga desa seberang sungai dijemput sama. "Saya berasa dukacita kerana jambatan yang dibina dengan tenaga dan belanja yang begitu besar tidak digunakan oleh warga desa dengan wajar," kata si kepala desa dalam ucapannya.

Tiba-tiba bangunlah seorang kanak-kanak yang mendekati usia belia, menyampuk kata-kata si kepala desa, "Tuan , jambatan itu hanya lambang kemegahan yang tiada gunanya. Warga desa lebih senang menggunakan sungai nan sebatang untuk berdagang. Sungai yang panjang itu memanjangkan lagi rezeki kita, sejak dahulu urusan perniagaan dengan desa seberang tidak mendatangkan apa-apa keuntungan kepada kita. Sejak lama kuasa beli warga desa di sana tidak menguntungkan kita. Kita mendapat lebih banyak untung daripada desa-desa lain di sepanjang sungai nan sebatang itu. Jadi apa maknanya jambatan itu kalau warga desa kita lebih senang berperahu?"

Seisi desa bertepuk tangan bersorak riang, ketawa panjang. Si kepala desa bergegas pulang, mencari -cari cermin yang sudah lama dibuang. Maka dinyanyikan orang dari hari ke hari:

                                                   ikan biar dapat
                                                   serampang jangan pukah.........

Amir Md Akhir
Nov. 2011


Kisah Jambatan dan Curut

Sent: Tuesday, 1 November 2011, 11:32

Alkisah, ceritera sebuah desa di tebing sungai yang aman makmur dengan hasil mahsul melimpah ruah, ramai pedagang datang berniaga, pasarnya tidak lengang sentiasa riuh rendah orang berjual beli. Kepala desa tidak lekang senyum, desanya maju sebagai pusat niaga wilayah yang diangkat oleh pemerintah negeri, desa termakmur di negeri itu. Namun tidaklah juga dia berpuas hati, baginya desa itu mampu maju dan makmur lagi dan tidaklah dipanggil sebagai desa seharusnya sebuah bandar. Dengan kata lain dia bukan seorang kepala desa lagi tetapi datuk bandar, begitulah cita-citanya.

Maka berikhtiarlah ia untuk membangunkan desanya, tiadalah ia lena tidurnya memikirkan perencanaan untuk menglengkapi cita-citanya itu sehinggalah pada suatu hari dia berdiri di tebing sungai berhampiran dengan tambatan perahu yang sibuk di waktu pagi. Penghuni desa menaiki perahu dari tambatan tebing seberang sana ke tambatan tebing di sebelah sini, diperhatikannya kawasan yang maju di desanya itu  cuma ditebing kiri dari arah sungai yang menghulu manakala di tebing kanannya agak ketinggalan. Orang berdagang di tebing kiri, penghuni desa lebih ramai bermukim di tebing kiri,ruang pasarnya lebih besar dan sibuk, apa jua keraian desa dan negeri disempurnakan di tebing kiri, malah kepala desa juga berumah di situ.

Sedetik terfikirlah ia, tebing di seberang kanan harus dimajukan. Tetapi apakah kaedah, apakah cara? Terbuntulah di benak fikirannya bagaimana untuk memajukan daerah di tebing kanan. Berdiri lama lagilah kepala desa di tambatan perahu itu,sambil diperhatikannya penghuni desa sering juga berulang alik antara dua tebing sungai itu, jarak antara dua tebing itu agak jauh juga, masakan tidak sungai itu adalah sungai utama di negeri itu,  daripada pengamatannya jarak antara dua tebing itu tidak lebih dari 200 depa. Perahu yang berulang alik tidaklah banyak, ada waktunya orang berhimpit untuk menaiki sebuah perahu, pernah juga orang jatuh ke sungai kerana berebut menaiki perahu, barang dagangan yang dibawa tidaklah juga banyak kerana perahu yang ada tidak sebesar mana, tidak mampu orang di desa itu memiliki perahu yang besar.

"Seharusnya ada jambatan yang menghubungi dua tebing ini"! "Ya aku harus membina sebuah jambatan". Kepala desa berdialog sendiri,akalnya bercambah ligat untuk memajukan desa, pembinaan jambatan sebagai pemangkin kemajuan desanya, kemudahan perhubungan penghuni desa dari satu tebing ke satu tebing akan merancakkan pembangunan desanya dan juga daerah sekitar dan seterusnya negeri permainya itu. Langkah dan tindakan kerja harus dirancang dan dipercepatkan.

Dana untuk membina jambatan tidaklah sukar untuk diperoleh, hasil mahsul desa sudah lebih mencukupi, bahan binaan tidaklah payah untuk dicari, hutan pokok kayu di belakang desa sudah memadai untuk ditebang dan dijadikan asas binaan jambatan, apa jua bahan untuk menaikkan jambatan tidaklah memeningkan kepala desa untuk menyediakannya. Maka dipanggilnya tukang kayu dan tukang batu ke balai kerja untuk berbincang akan pembinaan jambatan yang dapat membangunkan lagi desa permai itu.

Di balai kerja air kopi dan curut telah sedia dihidangkan, sambil kepala desa mengurut janggutnya yang tidak lebat dan panjang cuma sekumit sejempul sahaja, itulah faedahnyanya janggut sebegitu rupa, mengusai waktu sambil otak berfikir tentang sesuatu. "Mana dia si tukang kayu dan batu ni, sudah lama ditunggu tidak muncul lagi mereka, tiadalah mereka hormat akan aku rupanya, masakan kepala desa menunggu orang bawahan", benak hatinya merungut sendiri. Sambil itu kepala desa menuang kopi dalam cawan tembikar cina yang dibelinya di ibu negeri sepurnama lalu, di celah jari tangan kirinya sudah terbakar curut yang sudah dihisap beberapa kali, asap curut menyelubungi ruang udara balai kerja, bau kental curut sudah menusuk hidung, namun itulah yang enak baginya dan meredakan kerengusan menunggu lama tetamu yang dipanggil yang belum kunjung tiba.

Balai kerja yang tidak berdinding itu cuma satu ruang berlantaikan tikar mengkuang melayu, keluasannya tidaklah sebesar mana, lapan helai tikar tersebut telah menutupi lantai berpapan kayu ruang balai itu. Binaannya sederhana, namun seni kerjanya tinggi dan bernilai, atapnya bergenting tanah, balai ini dijadikan tempat kerja kepala desa bersama anak desa untuk bermesyuarat

Hampir sebatang curut dihisapnya barulah muncul si tukang kayu bersama tukang batu, dilihat kepala desa dari jauh , mereka berjalan pantas ke arah tangga balai kerja, setibanya di ruang balai langsung diberi salam kepada kepala desa. Kepala desa endah tak endah menjawabnya, tapi dijawabnya juga, hatinya terasa sakit mengenangkan lambatnya mereka si tukang-tukang datang ke balai itu. namun apakan daya kedua-dua tukang itu sememangnya mahir dan ahli dalam kerja masing-masing.

Pembuka bicara dimulakan oleh kepala desa, tercetuslah niat dan cita-cita untuk membina jambatan menghubung dua tebing sungai di desa itu. Kedua-dua si tukang kayu dan tukang batu mendengar dengar dengan penuh tekun tyiadalah mereka melamun ke perkara yang lain. Raut wajah mereka juga tiadalah berubah, mengikuti bicara kepala desa dengan patuh dan akur, namun hampir di akhir bicara kepala desa, kerutan di kepala mereka masing-masing jelas kelihatan, terpancar wajah sugul dan kerisauan. melihat akan perubahan wjah dan raut muka kedua-dua tukang itu, kepala desa langsung bentak, "kenapa hamba berdua seolah-olah tidak berpuas hati dengan cadangan hamba untuk membina jambatan ini?" "Apa masalahnya?" Terpinga-pingalah kedua-dua tukang tersebut apabila disoal begiru rupa. Si tukang kayu dengan suara yang agak terketar-ketar mula membuka bicara, " wahai kepala desa yang dihormati, untuk membina jambatan itu sememangnya hamba dengan si tukang batu amat mahir dan kami berdua adalah ahlinya, kami juga percaya tuan mampu mengeluarkan biaya untuk membina jambatan tersebut, jambatan itu juga amatlah berguna kepada penduduk desa ini dan besarlah manfaatnya kepada desa dan negeri ini sekiranya terbina jambatan tersebut". Akan tetapi untuk membinanya memerlukan tenaga kerja yang ramai, inilah persoalannyanya, kerana tenaga kerja di desa ini tidaklah seramai yang ada untuk memulakan kerja pembinaan jambatan itu".
 
Sambil menghisap curut yang kedua dengan pelepasan asap  menebar ke ruang balai, kepala desa agak tersentak akan kata-kata tukang kayu itu, "pekerja tidak cukup ramai"? Ke mana perginya warga desa ini?" "Pembinaan jambatan yang tidak sepanjang mana memerlukan  pekerja yang ramai, kalau tidak cukup sekalipun bukankah penduduk desa ini boleh membantu sama?" Dijawab si tukang kayu, " Tuan harus ingat penduduk desa ini mempunyai kerja masing-masing, masakan ada waktu untuk melibatkan diri dalam kerja seumpama ini, selain itu tidak semuanya juga pandai bertukang, membina jambatan perlukan kemahiran dan keahliannya. kerja-kerja sebegini bukannya senang dan mudah". Kepala desa dengan suara yang keras membalas akan hujah si tukang kayu, "jambatan ini untuk kemudahan dan kesenangan semua penduduk desa, setiap penduduk desa haruslah terlibat sama untuk membinanya, tiada siapa pun yang dikecualikan". Maka terdiamlah kedua-dua tukang tersebut, bagi mereka cuma memberi pandangan masing-masing dan kebenaran serta hakikat akan masalah mendapatkan pekerja untuk membina jambatan tersebut, tiadalah niat yang lain.
 
Di benak fikiran kepala desa, masalah pekerja tidak seharusnya timbul dan menjadi batu penghalang kepada rancangan membina jambatan itu, segala keperluan wang tersedia ada, begitu juga bahan binaan, semua ini sekiranya di desa lain mungkin menjadi suatu masalah, tetapi tidak didesanya, masakan tenaga kerja boleh menjadi masalah yang tenat, semakin ligat kepalanya memikirkan keadaan yang baginya remeh tetapi telah menjadi besar dan tegang. Maka disuruh kedua-dua tukang itu pulang sambil dipesan untuk memaklumkan kepadanya berapa ramai tenaga kerja yang sedia ada dan diperlukan untuk membina jambatan itu. Berjanjilah kedua-dua tukang itu akan menyampaikan angka yang diinginkan kepala desa pada esok harinya.
 
"Tidak disangka tiada perkerja menjadi kangkangan dan genting kepada rancangan ku, desa semakmur ini tidak seharusnya menghadapi masalah sebegini rupa", kata-kata ini berulang bermain di fikiran kepala desa. Kepala desa lalu memanggil pembantu balai dan mengarahkan "kamu pergi panggil semua pegawai desa ke balai ini sekarang kerana aku ingin adakan mesyuarat penting, jangan berlengah lagi". Diambilnya sebatang curut untuk dihisap, sambil menyalakan curut itu benaknya bermain lagi "aku mengadakan usaha yang boleh memajukan desa ini, niat ku murni, namun bagaikan tiadanya kerjasama daripada penduduk desa untuk tujuan ku ini, isssyy....tidak ada pekerja atau tidak mahu berkerjasama", mula timbul perasaan prasangka kepala desa. Sedang  fikirannya bermain selenggok  itu, terdengarlah ia salam daripada beberapa orang yang telah sampai di balai kerja itu. Lalu ia pun menjawab salam, sememangnya ia tidak menyedari akan kehadiran mereka yang telah sedia bersila di ruang balai.
 
Kepala desa memulakan bicara dengan menjelaskan maksud panggilan mesyuarat itu dan rencananya untuk membangunkan desa dengan pembinaan jambatan yang boleh merancakkan lagi kemajuan desa itu. Tiadalah pegawai desa yang membantah, namun setelah diutarakan masalah pekerja masing-masing mengeluh dan mendengus kerana sememangnya hal itu adalah masalah yang besar, meskipun dirayu dan dipujuk oleh kepala desa untuk sama-sama berkerja untuk membina jambatan itu tetapi setiap daripada mereka memberi seribu alasan untuk tidak melibatkan perkerjaan untuk membina jambatan itu. Bagi mereka biarlah si tukang kayu dan si tukang batu dipertanggungjawabkan membina jambatan itu tanpa memperdulikan ketiadaan perkerja sepertimana yang dikatakan sebagai penghalang kepada kelancaran pembinaan prasarana itu. Bertekad mereka, pekerjaan itu adalah bukan mereka ahlinya, hinggakan biarlah desa itu tanpa jambatan asalkan tiada keringat mereka akan gugur kerana membinanya.  
 
Kepala desa semakin kecewa melihat akan tindak balas pegawai-pegawai desanya, masakan dipecat semuanya kerana tidak lagi sekepala dengannya, sedangkan usaha ini adalah untuk kemajuan desa, tetapi ketidakkerjasamaan untuk melibatkan diri dalam usaha ini  menonjolkan kepentingan masing-masing, meskipun sebelum ini pernah mereka melaungkan dan bersatu hati akan bekerjasama dalam apa jua usaha yang akan dilakukan secara bersama dan bersepakat tidak terpancar lagi cuma yang tinggal omongan kosong. Masakan tidak usaha yang boleh memajukan desa tidak lagi dianggap penting, kemakmuran yang dinikmati sudah memadai, kemewahan diri masing-masing sudah tercapai, apa lagi mau dicari yang lain, mungkin perasaan itu yang sudah terpahat di kepala masing-masing. Namun yang memeritkan lagi hatinya akan kata sepakat yang pernah diucapkan semasa perlantikan mereka sebagai pegawai desa, berkerjasama dan saling bantu membantu dalam apa jua hal dan perkara atas nama kemajuan desa tetapi di saat diperlukan janji-janji itu, tidaklah terlaksana oleh mereka.
 
Kepala desa tidaklah patah semangat, akan ditunggu jawapan daripada si tukang kayu dan si tukang batu pada esok harinya, bilangan perkerja yang diperlukan untuk usahanya itu, keperluan dana atau wang tiadalah masalah malah dipersetujui oleh pegawai-pegawai desa sebentar tadi, baginya usaha ini akan diteruskan, jambatan itu tetap akan dibina.
 
Persoalannya, sama ada usaha ini akan berjaya atau gagal sekiranya tiada kerjasama sepenuhnya daripada penduduk desa dan pegawai-pegawainya. Hal itu masih bermain di benak fikiran kepala desa, hinggakan tidak selena tidurnya di malam itu.
 
 
Amir Md Akhir
Okt 2011